Rahasia Amplop Merah Jambu
![]() |
| Source: 4.bp.blogspot.com |
Di masa kecil, kami sering menghabiskan waktu berdua, mulai dari pergi dan pulang sekolah bersama, duduk sebangku di kelas, pergi ke tempat les yang sama, bersepeda bersama, bermain petak umpet, dan masih banyak lagi hal yang kita lakukan bersama saat kecil. Kami juga sempat membangun rumah pohon di sebuah lahan milik kakekku. Tepatnya bukan kami yang membangun, melainkan kakekku, kami hanya bisa merengek memintanya untuk membuat rumah pohon untuk kami.
Kini Viona menjauhiku, bahkan menjawab sapaanku pun tidak. Namun hal itu tidak membuat perasaanku kepadanya surut. Itulah yang membuat aku berada di pojok ruang berharap akan balasan cinta dari Viona. Itu juga yang membuatku persis seperti seorang penguntit, aku sering membuntuti Viona.
Aku pernah mengintipnya dari balik jendela kamarnya saat ia sedang tertidur. Ia begitu cantik dibalik pakaian tidur dan rambutnya yang tergerai sedikit acak-acakan. Dengkuran kecilnya terdengar berirama. Apa ia sedang bernyanyi di alam mimpi? Aku ingin sekali masuk untuk mengusap mukanya, namun aku tidak mungkin senekat itu.
Viona sekarang semakin keren saja dan makin susah kugapai, tentunya. Ia persis seperti bintang di langit malam, cantik dan bersinar namun tak akan pernah bisa kugapai karena aku hanya kerikil jalanan yang selalu memandanginya dari balik kegelapan.
Sebentar lagi ia akan menjadi dokter. Cita-citanya dari kecil memang. Sementara aku? Aku menuntaskan Sekolah Dasar pun tidak. Aku berhenti sekolah saat aku berada di kelas enam. Aku muak dengan sekolah. Semua orang mengacuhkanku, tidak ada yang mau mendengar pendapatku, entah itu murid-murid di kelasku, guru-guru, bahkan Viona sekalipun.
Hari ini kuberanikan untuk mengirimi Viona surat. Aku sudah mulai lelah terus bersembunyi atas perasaanku sendiri. Sekarang saatnya aku memberitahu Viona.
Kulihat Viona sedikit kebingungan saat menemukan sebuah amplop merah jambu yang kuselipkan diatas bantalnya saat aku megendap-endap masuk ke kamarnya melalui jendela tadi. Ekspresinya seketika berubah saat ia membaca isi surat dariku. Kaget. Sangat kaget. Sebegitu tidaktahu kah dia akan perasaanku ini?
Beberapa saat kemudian Viona keluar dari rumah dan mengendarai skuter matik warna merah miliknya. Aku berlari mengejarnya. Aneh, aku tidak merasa sama sekali kelelahan. Mungkin ini apa yang disebut orang kekuatan cinta. Aku berlari, berlari dan berlari, hingga akhirnya Viona menurunkan standar motornya di depan sebuah tempat. Tempat apa ini? Aku tidak bisa terus bertanya-tanya karena aku tidak boleh kehilangan jejak Viona.
Kini Viona menangis sambil berjongkok di depan sebuah batu. Apa dia kecewa pada perasaanku yang kuungkap tadi hingga menangis seperti ini? Aku terus bertanya-tanya sembari mengutuk diriku sendiri jikalau memang aku penyebabnya. Sambil sesugukan, ia mengeluarkan sebuah amplop merah jambu, persis seperti amplop suratku tadi, kemudian ia meletakannya di atas batu itu lalu pergi.
Viona telah membuang suratku. Kupungut amplop merah jambu yang malang itu. Dimuka amplop terdapat tulisan ‘balasan surat untuk Liro’. Sontak aku membukanya, ternyata Viona tidak sejahat itu dengan membuang suratku.
‘Aku juga mencintaimu, Liro. Tapi aku mohon kembalilah, jangan terus mengikuti aku karena kita tidak akan bisa bersama.’
Kakiku mendadak lemas. Hancur sudah harapan yang kudambakan selama bertahun-tahun ini. Kurobek surat itu lalu kuhempaskan diatas batu yang bertuliskan nama dan tanggal kematianku beberapa tahun yang lalu.

Komentar
Posting Komentar